Langsung ke konten utama

Postingan

Biar

Biarkan rasa ini begini... Mungkin semesta merancang segalanya sebagai karma ku.. Karena mencintai ternyata bukanlah perkara mudah... Melainkan sebaliknya... Dua sisi harus saling seimbang, mengisi, menutrisi, mengasihi. Dua orang manusia mesti berjuang berdiri tegak dan menyeimbangkan satu bola yang digenggam bersama.. Kamu tahu rasanya bila yang seorang menyerah dan melepaskan genggamannya? iya, bola itu tak kuat sama sisi.. ia melemah dan jatuh. Karena satu orang lainnya yang berjuang takkan mampu menahannya... Perasaannya akan sakit bersamaan dengan jatuhnya bola itu. Aku benci berandai-andai kemudian menyumpah pada semua hal yang terlanjur kutempuh! Biar saja semua mengalir.. Mungkin rencana Tuhan lebih indah.. bahkan itu bukan 'mungkin', tetapi pasti. Ia yang maha mengetahui segala isi dari makhluk-Nya Walau begitu, aku akan tetap berusaha menggenggam bola ini. Walau nantinya kamu lelah dan melepaskannya begitu saja, aku tak peduli. Karena bagi...

Kisah Kami dan Televisi Kecil

Hari itu sama dengan hari-hari lainnya. saya, kedua kakak serta ibu. Duduk bersama sambil menonton televisi kecil.  Keciiiiil sekali. Kalian tahu televisi yang biasa bertengger di pos ronda? Ya. Seperti itulah.. bahkan lebih bagus televisi pos ronda dibanding yang saya miliki dulu. Singkat cerita, televisi kami yang 14 inch rusak. Padahal  tv jadi barang penting saat itu. Penggunaan internet dan smartphone belum terjamah. Pokoknya sumber kebahagiaan di masa lalu ya hanya TV. Akhirnya kami pakai TV hitam kecil yang sangaat kecil peninggalan ayah yang dahulu biasa dipakai menonton acara tinju favoritnya. Dengan dua batang Antena yang mencuat di atasnya. Biasanya kami gerak-gerakkan kedua antena itu saat tiba-tiba channel yang kami tonton jadi layar semut. Gambar yang dihasilkan pun hitam-putih. Maka tiap keesokan harinya di sekolah, saat teman-teman membicarakan acara semalam yang tayang di TV "apa kamu liat yang pake baju biru itu semalem?" saya nggak tahu siapa yang p...

Sekilas Memori Tentang Ayah

malam kuhirup dalam dalam. Seketika paru paruku disesaki udaranya. Susah aku memejamkan mata. Ingat pada ayahku. Lelaki yang selalu kuingat dengan tubuh tambunnya, berjalan jalan mengenakan kaos merah jambu bergambar dua sarung tinju yang saling meninju, kadang suka pakai sarung, senyum  sumringahnya dihiasi kumis tebal, serta topi yang melengkapi gayanya kala bepergian. Iya, dialah ayahku. Setidaknya sosok yang kukenang sejak saat usia 9 tahun hingga saat ini, walau aku pernah berjumpa dengannya sebentar dengan sosok berbeda, namun ingatanku tentangnya sebagai sosok pria bertubuh tambun selalu melekat diingatanku. Kini aku berkisah dengan air mata yang turun deras. Begitu lemahnya aku, ya. Begitulah aku adanya. Beliau bilang aku cantik pakai topi, dia bilang aku mirip Susi Susanti pemain bulu tangkis berprestasi itu. Senang bukan kepalang, aku selalu memakai topi ketika bepergian (setidaknya sebentar, lama-lama aku bosan juga. Hehe) kira-kira ayahku inilah pria yang pertama...

Gusar

Hidup dibayangi ketakutan tanpa henti. Digelung gusar tak bertepi Lalu terombang ambing cemas hingga nanti. Takut menatap kedepan, Tak sanggup lihat sinar matahari yang menusuk-nusuk. Tak tahan dahsyatnya badai yang menerjang. Tak kuasa menggapai tingginya bintang itu. Aku takut, Bagaimana tubuh kecilku mampu ? mengapa aku? bisakah aku? wahai ibu... kepada siapa lagi aku mengadu? tolong aku..aku terkubur dalam kengerian yang belum absah.. tolong aku yang terendam dalam jiwa pengecut ini. kiranya siapa yang berkenan membantuku? diriku sendiri. iya. hanya aku, diriku. tiada lain dan tiada bukan.

Maklumi Benci Kami

Aku benci hidup begini. Aku benci diatas benci. Maka dikatakanlah aku sebagai manusia laknat yang terkutuk. Salah siapa aku hidup begini. salah siapa? Dikatakanlah cuma-cuma nafas dan bumi beserta isinya diperuntukkan pada kita. Bukan itu. Bukan. Aku hanya tersesat di bawah rongsokan dendam. Aku hanya benci lihat kemanusiaan perlahan remuk digerogoti jiwa-jiwa laknat yang lupa berpijak dibumi. kami hitam karena mereka. Lantas salah siapa?! Maklumi aku. 7 Juni 2018

Surat untuk Diriku.

lagi lagi malam ini kepalaku dipenuhi lautan pertanyaan. Akankah diriku akan terus berdiri menatap hal yg tak pasti? Rindu akan cermin diriku yang dahulu. Itu pasti. Ingatanku itu perlahan memudar tergerus detik yang berjalan tanpa ampun. Wahai kau sang diri, hendaklah jangan sia siakan satu barangpun didepan matamu. Aku tak ingin terlelap dalam keraguan dan buai maya itu. Jangan jadi manusia yang merugi saat kau dihadapkan banyak pilihan Maka jalanilah hidup sebagaimana mestinya hidup itu. Surat untuk diriku. teruntuk diriku.

Diluar Normal

Malam ini mulai larut. tak kusangka bintang mengedipkan cahayanya padaku. namun aku tak kuasa pada bulan yang selalu disana. tak kuasa lihat dia disana yang tenggelam dalam khayalannya tentangku.