Langsung ke konten utama

Postingan

5 Lipstik Lokal 50 Ribuan yang Bikin Kamu Tampil Mempesona

Warna bibir yang indah tentunya akan membuat setiap wanita tampil percaya diri. Produsen lipstick pun berlomba untuk menghadirkan berbagai jenis lipstick. Formula dan jenisnya dibuat untuk menyesuaikan kebutuhan para wanita masa kini. Harga yang ditawarkan juga beragam. Banyak yang menyatakan semakin tinggi harga lipstick maka semakin baik pula kualitasnya sesuai dengan istilah “Ada harga ada barang”. Namun, kehadiran lipstick merek lokal yang menjadi tren akhir-akhir ini ternyata menghapus stigma tersebut. Lipstick lokal seolah menjadi jagoan baru yang mampu mencuri hati beauty enthusiast . Bagaimana tidak? Kualitasnya tak kalah dengan merek luar tetapi harga yang ditawarkan sangat terjangkau hingga dikisaran   50 ribu rupiah! Tentu saja deretan lipstick murah meriah ini wajib kalian miliki sebagai kunci untuk tampil makin cantik. 11.    Pixy Lip Cream Shade 10: Sweet Choco (Rp. 45 Ribu) Pixy menghadirkan formula Lip Cream yang matte tanpa membuat bibir k...

Memaknai Hari Kartini: Ayo Jadi Kartini Milenial!

Suatu hari, saat usiaku belum genap 6 tahun, Aku mengikuti lomba anak untuk memperingati hari Kartini yang diadakan oleh rukun warga di daerah Sukatani, Depok, dimana rumah lamaku berada.  Sejak pagi buta, ibuku sudah heboh, mencari salon yang juga menyewakan baju daerah khusus anak-anak untukku. Sepertinya perjuangannya sulit, karena baju sewa sudah habis di musim lomba hari kartini.  Hingga akhirnya ibuku mendapat salon yang masih memiliki stok baju daerah sewaan di daerah komplek deppen. Baju itu adalah baju bodo, khas dari Sulawesi. Kemudian wajah mungilku di rias oleh si pemilik salon. Perlahan polesan pensil alis dan lipstik menggerayangi wajahku. Aneh rasanya.. benda benda yang biasa dipakai ibuku, sekarang aku yang mengenakannya. Setelah riasannya selesai, baju bodo warna merah nan cantik tadi kupakai, si pemilik salon mengenakan hiasan di kepalaku. Rasanya berat dan tak biasa untuk seorang bocah. Ketika penampilanku paripurna, aku dan ibuku menumpangi...

Jerawat Kembali Menyerang!!!

Akhir-akhir ini saya mulai dihadapi berbagai tekanan. salah satunya skripsi saya. Oke saya ga mau banyak bahas skripsi saya, biarlah cukup saya yang memendamnya sendiri. hehe... Masalahnya, sifat saya yyang terlalu overthinking, gampang cemas bener-bener sulit dihhilangkan. Apa-apa selalu dipikirin. Bahkan hal sekecil apapun! termasuk urusan skripsi saya ini udah membuat saya jadi makin stres. STRES. Musuh utama para wanita yang dianugerahi kulit berminyak. Mimpi buruk! Buruk diatas buruk! sedikit kepikiran skripsi, jerawat langsung mampir di jidat. Ga cuma satu! dia bawa kawanannya. udah hampir selesai, ehh si jerawat bawa temen-temennya lagi di pipi. dan di bagian pipi ini lah si jerawat betah banget kaya di rumah nenek. Dia bisa bebas.. hm! POLA MAKAN GA JELAS. ya.. bukan mitos. ini bener-bener nyata. Tiap makan yang berminyak dikit aja kaya goreng-gorengan, muka langsung jadi ladang minyak. Males cuci muka dikit udah deh tuh, langsung si jerewi muncuul lagi. gemes aku...

Biar

Biarkan rasa ini begini... Mungkin semesta merancang segalanya sebagai karma ku.. Karena mencintai ternyata bukanlah perkara mudah... Melainkan sebaliknya... Dua sisi harus saling seimbang, mengisi, menutrisi, mengasihi. Dua orang manusia mesti berjuang berdiri tegak dan menyeimbangkan satu bola yang digenggam bersama.. Kamu tahu rasanya bila yang seorang menyerah dan melepaskan genggamannya? iya, bola itu tak kuat sama sisi.. ia melemah dan jatuh. Karena satu orang lainnya yang berjuang takkan mampu menahannya... Perasaannya akan sakit bersamaan dengan jatuhnya bola itu. Aku benci berandai-andai kemudian menyumpah pada semua hal yang terlanjur kutempuh! Biar saja semua mengalir.. Mungkin rencana Tuhan lebih indah.. bahkan itu bukan 'mungkin', tetapi pasti. Ia yang maha mengetahui segala isi dari makhluk-Nya Walau begitu, aku akan tetap berusaha menggenggam bola ini. Walau nantinya kamu lelah dan melepaskannya begitu saja, aku tak peduli. Karena bagi...

Kisah Kami dan Televisi Kecil

Hari itu sama dengan hari-hari lainnya. saya, kedua kakak serta ibu. Duduk bersama sambil menonton televisi kecil.  Keciiiiil sekali. Kalian tahu televisi yang biasa bertengger di pos ronda? Ya. Seperti itulah.. bahkan lebih bagus televisi pos ronda dibanding yang saya miliki dulu. Singkat cerita, televisi kami yang 14 inch rusak. Padahal  tv jadi barang penting saat itu. Penggunaan internet dan smartphone belum terjamah. Pokoknya sumber kebahagiaan di masa lalu ya hanya TV. Akhirnya kami pakai TV hitam kecil yang sangaat kecil peninggalan ayah yang dahulu biasa dipakai menonton acara tinju favoritnya. Dengan dua batang Antena yang mencuat di atasnya. Biasanya kami gerak-gerakkan kedua antena itu saat tiba-tiba channel yang kami tonton jadi layar semut. Gambar yang dihasilkan pun hitam-putih. Maka tiap keesokan harinya di sekolah, saat teman-teman membicarakan acara semalam yang tayang di TV "apa kamu liat yang pake baju biru itu semalem?" saya nggak tahu siapa yang p...

Sekilas Memori Tentang Ayah

malam kuhirup dalam dalam. Seketika paru paruku disesaki udaranya. Susah aku memejamkan mata. Ingat pada ayahku. Lelaki yang selalu kuingat dengan tubuh tambunnya, berjalan jalan mengenakan kaos merah jambu bergambar dua sarung tinju yang saling meninju, kadang suka pakai sarung, senyum  sumringahnya dihiasi kumis tebal, serta topi yang melengkapi gayanya kala bepergian. Iya, dialah ayahku. Setidaknya sosok yang kukenang sejak saat usia 9 tahun hingga saat ini, walau aku pernah berjumpa dengannya sebentar dengan sosok berbeda, namun ingatanku tentangnya sebagai sosok pria bertubuh tambun selalu melekat diingatanku. Kini aku berkisah dengan air mata yang turun deras. Begitu lemahnya aku, ya. Begitulah aku adanya. Beliau bilang aku cantik pakai topi, dia bilang aku mirip Susi Susanti pemain bulu tangkis berprestasi itu. Senang bukan kepalang, aku selalu memakai topi ketika bepergian (setidaknya sebentar, lama-lama aku bosan juga. Hehe) kira-kira ayahku inilah pria yang pertama...

Gusar

Hidup dibayangi ketakutan tanpa henti. Digelung gusar tak bertepi Lalu terombang ambing cemas hingga nanti. Takut menatap kedepan, Tak sanggup lihat sinar matahari yang menusuk-nusuk. Tak tahan dahsyatnya badai yang menerjang. Tak kuasa menggapai tingginya bintang itu. Aku takut, Bagaimana tubuh kecilku mampu ? mengapa aku? bisakah aku? wahai ibu... kepada siapa lagi aku mengadu? tolong aku..aku terkubur dalam kengerian yang belum absah.. tolong aku yang terendam dalam jiwa pengecut ini. kiranya siapa yang berkenan membantuku? diriku sendiri. iya. hanya aku, diriku. tiada lain dan tiada bukan.