Langsung ke konten utama

Postingan

Sekilas Memori Tentang Ayah

malam kuhirup dalam dalam. Seketika paru paruku disesaki udaranya. Susah aku memejamkan mata. Ingat pada ayahku. Lelaki yang selalu kuingat dengan tubuh tambunnya, berjalan jalan mengenakan kaos merah jambu bergambar dua sarung tinju yang saling meninju, kadang suka pakai sarung, senyum  sumringahnya dihiasi kumis tebal, serta topi yang melengkapi gayanya kala bepergian. Iya, dialah ayahku. Setidaknya sosok yang kukenang sejak saat usia 9 tahun hingga saat ini, walau aku pernah berjumpa dengannya sebentar dengan sosok berbeda, namun ingatanku tentangnya sebagai sosok pria bertubuh tambun selalu melekat diingatanku. Kini aku berkisah dengan air mata yang turun deras. Begitu lemahnya aku, ya. Begitulah aku adanya. Beliau bilang aku cantik pakai topi, dia bilang aku mirip Susi Susanti pemain bulu tangkis berprestasi itu. Senang bukan kepalang, aku selalu memakai topi ketika bepergian (setidaknya sebentar, lama-lama aku bosan juga. Hehe) kira-kira ayahku inilah pria yang pertama...

Gusar

Hidup dibayangi ketakutan tanpa henti. Digelung gusar tak bertepi Lalu terombang ambing cemas hingga nanti. Takut menatap kedepan, Tak sanggup lihat sinar matahari yang menusuk-nusuk. Tak tahan dahsyatnya badai yang menerjang. Tak kuasa menggapai tingginya bintang itu. Aku takut, Bagaimana tubuh kecilku mampu ? mengapa aku? bisakah aku? wahai ibu... kepada siapa lagi aku mengadu? tolong aku..aku terkubur dalam kengerian yang belum absah.. tolong aku yang terendam dalam jiwa pengecut ini. kiranya siapa yang berkenan membantuku? diriku sendiri. iya. hanya aku, diriku. tiada lain dan tiada bukan.

Maklumi Benci Kami

Aku benci hidup begini. Aku benci diatas benci. Maka dikatakanlah aku sebagai manusia laknat yang terkutuk. Salah siapa aku hidup begini. salah siapa? Dikatakanlah cuma-cuma nafas dan bumi beserta isinya diperuntukkan pada kita. Bukan itu. Bukan. Aku hanya tersesat di bawah rongsokan dendam. Aku hanya benci lihat kemanusiaan perlahan remuk digerogoti jiwa-jiwa laknat yang lupa berpijak dibumi. kami hitam karena mereka. Lantas salah siapa?! Maklumi aku. 7 Juni 2018

Surat untuk Diriku.

lagi lagi malam ini kepalaku dipenuhi lautan pertanyaan. Akankah diriku akan terus berdiri menatap hal yg tak pasti? Rindu akan cermin diriku yang dahulu. Itu pasti. Ingatanku itu perlahan memudar tergerus detik yang berjalan tanpa ampun. Wahai kau sang diri, hendaklah jangan sia siakan satu barangpun didepan matamu. Aku tak ingin terlelap dalam keraguan dan buai maya itu. Jangan jadi manusia yang merugi saat kau dihadapkan banyak pilihan Maka jalanilah hidup sebagaimana mestinya hidup itu. Surat untuk diriku. teruntuk diriku.

Diluar Normal

Malam ini mulai larut. tak kusangka bintang mengedipkan cahayanya padaku. namun aku tak kuasa pada bulan yang selalu disana. tak kuasa lihat dia disana yang tenggelam dalam khayalannya tentangku.

BEAUTY REVIEW : LIPSTICK PURBASARI 90 CRYSTAL

Helaaw beauties! Cerita dikit ya.. jadi waktu kerja di Wisma Atlit , saya naksir sama warna lipstik yang dipake sama temen. Karena warnanya bikin wajahnya keliatan fresh dan tambah cantik. Usut punya usut, ternyata ia memakai si Purbasari no. 90!! Pas gajian, segara melenggang ke Guardian dengan shombongnya plus nggak pake mikir langsung cuss beli! wkwkkw SHADE : No. 90 PRICE: Rp. 37.000 WHERE TO BUY: Guardian ISI PRODUKNYA SEPANJANG INI Btw, kemasan purbasari rasanya ringkih banget ya..terlalu ringan, Padahal baru beli bener bener baru banget dibuka dari kemasan kardusnya, tapi pas diangkat rasanya kayak oglek oglek gitu. Tau ngga sih kalo isi dan wadah ukurannya ngga pas, ya kayak gitu (oglek-oglek)  dan pas saya puter pun mesti hati2 takut tau tetiba patah :').  Anyway, saya ga terlalu pusingin packaging, yang terpenting warnanya disaya cocok atau nggak. (Tapi bolehlah purbasari tingkatkan lagi packagingnya ya ehehe) swatch di tangan...

CONTOH ARTIKEL TENTANG MEDIA CETAK

Eksistensi Media Cetak di Indonesia Oleh: Lintang Tribuana Widya Wardani                      Sebelum hadirnya radio, televisi, dan internet, media cetak merupakan media massa tertua yang hadir untuk memberikan beragam informasi kepada khalayak. Surat kabar pertama di dunia yaitu “ Acta Diuma ” terbit pada tahun 59 SM di Roma, pada zaman Julius Caesar. Surat kabar tersebut berisi kebijakan – kebijakan kaisar, pengumuman resmi, dan informasi penting lainnya. Pada masa itu surat kabar tersebut masih berupa tulisan yang diukir pada logam atau batu.                      Pada abad 19 saat perang Utara dan Selatan yang membagi Amerika, media cetak mulai diproduksi massal untuk dijual atau bahkan dierikan secara gratis untuk alat propaganda saat berperang. Kemudian mulai berkembang j...